Jumat, 20 Maret 2015

kesetiaan Sejati



”Ada uang abang disayang, tidak ada uang abang ditendang.” Inilah sebuah ungkapan yang menyatakan ketidaksetiaan. Tak mudah memang untuk setia, apalagi jika kesetiaan tidak hanya untuk diucapkan, tetapi perlu dibuktikan.
Ada tiga penguji kesetiaan.
Pertama, waktu. Seberapa lama kita bisa setia?

Kedua, jarak. Kita bisa setia saat dekat, tetapi bagaimana jika kita terpisah jauh
?

Ketiga, keadaan. Kalau lagi senang kita akan setia, tetapi bagaimana jika dalam keadaan yang sulit? 


Coba kita ingat kembali kisah tentang Rut. Setelah suami dan mertuanya jatuh miskin (tidak punya apa-apa lagi)……”tetapi dengan tangan kosong Tuhan memulangkan aku”. Di sinilah kesetiaan Rut diuji dan ia berhasil. Rut tidak meninggalkan Naomi dalam “kekosongannya”.Mudah sekali untuk setia kepada orang yang banyak harta benda dan tinggi kedudukan. Sebaliknya, sulit sekali untuk setia kepada orang yang sedang jatuh atau tidak punya apa-apa lagi. Rut bisa tetap setia karena dasar kesetiaannya adalah kasih, bukan harta. Oleh sebab itu, jikalau kita mau menjadi orang yang setia, baik kepada istri atau suami, pelayanan, bahkan kepada Tuhan, kita harus mengubah dasar kesetiaan kita. Biarlah kasih yang selalu menjadi alasan mengapa kita setia.


Jangan biarkan kesetiaan kita ditentukan oleh harta, tetapi tentukanlah kesetiaan kita oleh kasih




Selasa, 09 Desember 2014

Saat Gubukku Terbakar



Satu-satunya orang yang selamat dari kecelakaan sebuah kapal, terdampar di pulau yang kecil dan tak berpenghuni. Pria ini segera berdoa supaya Tuhan menyelamatkannya, dan setiap hari dia mengamati langit mengharapkan pertolongan, tetapi tidak ada sesuatupun yang datang.

Dengan capainya, akhirnya dia berhasil membangun gubuk kecil dari kayu apung untuk melindungi dirinya dari cuaca, dan untuk menyimpan beberapa barang yang masih dia punyai.

Tetapi suatu hari, setelah dia pergi mencari makan, dia kembali ke gubuknya dan mendapati gubuk kecil itu terbakar, asapnya mengepul ke langit. Dan yang paling parah, hilanglah semuanya. Dia sedih dan marah.

"Tuhan, teganya Engkau melakukan ini padaku?" dia menangis.
Pagi- pagi keesokan harinya, dia terbangun oleh suara kapal yang mendekati pulau itu. Kapal itu datang untuk menyelamatkannya.

"Bagaimana kamu tahu bahwa aku di sini?" tanya pria itu kepada penyelamatnya.
"Kami melihat tanda asapmu", jawab mereka.

Mudah sekali untuk menyerah ketika keadaan menjadi buruk. Tetapi kita tidak boleh goyah, karena Tuhan bekerja di dalam hidup kita, juga ketika kita dalam kesakitan dan kesusahan.

Ingatlah, ketika "gubukmu" terbakar, mungkin itu "tanda asap" bagi kuasa Tuhan. Ketika ada kejadian negative terjadi, kita harus berkata pada diri kita sendiri bahwa Tuhan pasti mempunyai jawaban yang positif untuk kejadian tersebut

Jumat, 05 Desember 2014

"Masih Ada dan Tetap Ada"




Baca:  Mazmur 86:1-17

"Sebab Engkau besar dan melakukan keajaiban-keajaiban; Engkau sendiri saja Allah." 
Mazmur 86:10

Mujizat adalah karya adikodrati Tuhan yang dinyatakan dalam kehidupan orang percaya.  Mujizat sangat identik dengan berkat, kesembuhan, pemulihan.  Begitu rindunya mengalami mujizat, seseorang rela membayar harga, terkadang menempuh perjalanan yang sangat jauh, bahkan melintasi pulau atau negara demi menghadiri KKR  (Kebaktian Kebangunan Rohani)  yang dilayani oleh hamba Tuhan terkenal yang dipakai Tuhan secara luar biasa.  Tapi di sisi lain masih banyak orang yang tidak percaya terhadap mujizat.  Mereka beranggapan bahwa zaman mujizat sudah berlalu, hanya terjadi di zaman nabi-nabi terdahulu atau semasa Tuhan Yesus berada di bumi.

     Dahulu ketika Tuhan Yesus ada di tengah-tengah umat manusia juga ada sekelompok orang yang tidak percaya mujizat, padahal mereka berhadapan langsung dengan Sang Pembuat mujizat,  "Dan meskipun Yesus mengadakan begitu banyak mujizat di depan mata mereka, namun mereka tidak percaya kepada-Nya,"  (Yohanes 12:37).  Tak terkecuali orang-orang di Nazaret, padahal Nazaret adalah tempat asal Tuhan Yesus sendiri, tapi mereka meremehkan, bahkan menolak Dia, yang mereka pikir Yesus itu tidak lebih dari anak seorang tukang kayu.  "Dan karena ketidakpercayaan mereka, tidak banyak mujizat diadakan-Nya di situ."  (Matius 13:58).  Ada pula yang menganggap bahwa mujizat terjadi secara kebetulan dan bersifat insidentil saja.  Itu tidak benar!

     Mujizat itu ada dan tetap ada, sebab kuasa Tuhan itu tidak pernah berubah.  "Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya."  (Ibrani 13:8).  Terjadi tidaknya mujizat dalam hidup seseorang sangat ditentukan oleh seberapa besar imannya kepada Tuhan.  Kalau kita sendiri ragu-ragu atau bimbang, itu akan menjadi penghalang bagi Tuhan untuk menyatakan mujizat-Nya.  "...sebab orang yang bimbang sama dengan gelombang laut, yang diombang-ambingkan kian ke mari oleh angin. Orang yang demikian janganlah mengira, bahwa ia akan menerima sesuatu dari Tuhan."  (Yakobus 1:6-7).  Selama ada kebimbangan dan keraguan, seseorang tidak akan mendapatkan sesuatu dari Tuhan, apalagi mereka yang tidak percaya dan apatis.

Ketidakpercayaan adalah penghalang utama mengalami mujizat Tuhan!

Sabtu, 29 November 2014

Kebahagiaan



Seorang pria berumur 92 tahun yang memiliki selera tinggi, selalu percaya diri, bangga akan dirinya sendiri, selalu berpakaian rapi setiap harinya, dengan rambutnya putihnya yang selalu tertata rapi meskipun dia buta, masuk ke panti jompo hari ini. Istrinya yang berusia 70 tahun baru saja meninggal, dan mereka tidak pernah memiliki anak, sehingga dia harus masuk ke panti jompo.

Setelah menunggu dengan sabar selama beberapa jam di lobi, dia tersenyum manis saat seorang petugas memberitahukan bahwa kamarnya telah siap.

Ketika dia berjalan mengikuti petunjuk jalan ke elevator, petugas itu menggambarkan keadaan kamarnya yang kecil.

" Saya menyukainya !" katanya dengan antusias seperti seorang anak kecil yang baru saja mendapatkan hadiah seekor anjing dari orang tuanya.

" Pak, Anda belum melihat kamarnya, tahan dulu perkataan Anda " kata si petugas.
" Hal itu tidak ada hubungannya " dia menjawab

" Kebahagiaan adalah sesuatu yang kita putuskan dari awal. Apakah aku akan menyukai kamarku atau tidak, tidak tergantung dari bagaimana perabotnya diatur, tetapi dari bagaimana aku mengatur pikiranku sendiri."

" Aku sudah memutuskan untuk menyukai kamarku. Keputusan seperti itu jugalah yang kubuat setiap pagi setiap aku bangun dari tidurku. Untuk menyukai apapun yang Tuhan berikan padaku hari ini."

" Aku punya sebuah pilihan, aku bisa saja menghabiskan waktuku di tempat tidur hanya untuk menyesali kesulitan-kesulitan yang terjadi padaku karena ada bagian tubuhku yang tidak berfungsi, atau aku bisa turun dari tempat tidur dan berterima kasih atas bagian-bagian lain tubuhku yang masih bisa berfungsi."

" Setiap hari adalah hadiah, meski aku tidak bisa melihat, tapi aku masih bisa memusatkan perhatianku pada hari yang baru, dan pada semua kenangan indah dan membahagiakan yang pernah kualami dan kusimpan."
" Hanya untuk kali ini dalam hidupku, umur yang sudah tua adalah seperti simpanan di bank, dan aku akan menikmati dari yang telah aku simpan selama ini."

" Jadi nasehatku untukmu adalah untuk menyimpan sebanyak-banyaknya kebahagiaan di bank kenangan kita, dan berterima kasihlah pada orang-orang yang telah mengisi bank kenanganmu."

Banyak Memberkati



Baca:  2 Korintus 8:12-15

"Maka hendaklah sekarang ini kelebihan kamu mencukupkan kekurangan mereka,"  2 Korintus 8:14

Tuhan berkata,  "Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan."  (Yohanes 10:10).  Jelaslah bahwa pekerjaan Iblis adalah mencuri, membunuh, membinasakan.  Sedangkan Tuhan adalah pemberi:  memberi kehidupan dan kelimpahan;  Ia tidak pernah setengah-setengah dalam memberi.  "Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus."  (Filipi 4:19).  Tuhan sangat bermurah hati memberi supaya anak-anak-Nya hidup dalam berkelimpahan.

     Sebagai anak-anak Tuhan kita tidak perlu takut menjadi kaya, sebab hidup berkelimpahan adalah Alkitabiah.  Tetapi yang harus dijaga adalah sikap hati sehingga kita mampu mengelola berkat Tuhan itu secara benar, sebab kita ini hanyalah pengelola berkat.  Segala sesuatu adalah milik Tuhan yang dipercayakan kepada kita, Dia adalah pemilik.  Mengapa ini perlu dipertegas?  Sebab banyak sekali orang jatuh dalam dosa justru saat berkelimpahan.  Kekayaan membuat mereka lupa diri dan hidup menjauh dari Tuhan.  Agur bin Yake, salah satu penulis kitab Amsal menulis,  "Jangan berikan kepadaku kemiskinan atau kekayaan. Biarkanlah aku menikmati makanan yang menjadi bagianku. Supaya, kalau aku kenyang, aku tidak menyangkal-Mu dan berkata: Siapa TUHAN itu? Atau, kalau aku miskin, aku mencuri, dan mencemarkan nama Allahku."  (Amsal 30:8).

     Tuhan pasti memiliki tujuan di balik berkat yang Ia limpahkan.  Pada waktu Tuhan menyampaikan perjanjian berkat-Nya kepada Abraham Dia berkata,  "Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat."  (Kejadian 12:2).  Tuhan memberkati Abraham supaya semua bangsa di bumi mendapatkan berkat.  Jadi Tuhan memberkati kita bukan untuk dinikmati sendiri dan menjadi terkenal, tapi Tuhan rindu supaya bangsa-bangsa lain diberkati melalui umat perjanjian-Nya.  Dengan memiliki standar hidup yang lebih baik Tuhan mau semakin meningkat pula standar pemberian kita kepada orang lain.

Semakin diberkati Tuhan haruslah semakin bertambah kemampuan kita memberkati orang lain, sehingga nama Tuhan juga semakin dipermuliakan!

Rabu, 26 November 2014

Cara Pandang Terhadap Beban Hidup



Bukan berat Beban yang membuat kita Stress, tetapi lamanya kita memikul beban tersebut.
Pada saat memberikan kuliah tentang Manajemen Stress, Stephen Covey mengangkat segelas air dan bertanya kepada para siswanya: "Seberapa berat menurut anda kira segelas air ini?"
Para siswa menjawab mulai dari 200 gr sampai 500 gr."Ini bukanlah masalahberat absolutnya, tapi tergantung berapa lama anda memegangnya." kata Covey.

"Jika saya memegangnya selama 1 menit, tidak ada masalah. Jika saya memegangnya selama 1 jam, lengan kanan saya akan sakit. Dan jika saya memegangnya selama 1 hari penuh, mungkin anda harus memanggilkan ambulans untuk saya.Beratnya sebenarnya sama, tapi semakin lama saya memegangnya, maka bebannya akan semakin berat."

"Jika kita membawa beban kita terus menerus, lambat laun kita tidak akan mampu membawanya lagi. Beban itu akan meningkat beratnya." lanjut Covey. "Apa yang harus kita lakukan adalah meletakkan gelas tersebut, istirahat sejenak sebelum mengangkatnya lagi". Kita harus meninggalkan beban kita secara periodik, agar kita dapat lebih segar dan mampu membawanya lagi.

Jadi sebelum pulang ke rumah dari pekerjaan sore ini, tinggalkan beban pekerjaan. Jangan bawa pulang. Beban itu dapat diambil lagi besok. Apapun beban yang ada dipundak anda hari ini, coba tinggalkan sejenak jika bisa. Setelah beristirahat nanti dapat diambil lagi.

Hidup ini singkat, jadi cobalah menikmatinya dan memanfaatkannya...!! Hal terindah dan terbaik di dunia ini tak dapat dilihat, atau disentuh, tapi dapat dirasakan jauh di relung hati kita.
Start the day with smile.

Rabu, 19 November 2014

BERKAT SEDERHANA



Bacaan: Mazmur 36:6-11
NATS: (Mazmur 36:8)
Betapa berharganya kasih setia-Mu, ya Allah

Ketika kami sekeluarga sedang berada di Disney World, Tuhan memberikan berkat sederhana-Nya bagi kami. Disney World adalah tempat sangat luas -- 43,3 hektar tepatnya. Anda dapat mengelilinginya selama berhari-hari tanpa berjumpa dengan orang yang Anda kenal. Saat itu saya dan istri memutuskan untuk berpisah dari anak-anak, sementara mereka mencoba wahana permainan yang mengasyikkan bagi mereka. Kami berpisah pukul 09.00 dan merencanakan untuk berkumpul kembali pada pukul 18.00. 

Pada pukul 14.00, saya dan istri ingin sekali makan taco [makanan dari Meksiko]. Lalu kami melihat peta dan menuju anjungan Spanyol untuk menikmati masakan Meksiko. Baru saja kami duduk dan menikmati makanan, kami mendengar, "Hai Ma, hai Pa." Ternyata pada saat yang sama, ketiga anak kami juga sedang menyantap burrito panas. 

Sepuluh menit setelah kami berkumpul, datanglah topan di tempat itu disertai angin yang kencang. Hujan lebat pun menyapu, diiringi guntur yang menggelegar. Istri saya kemudian berkata, "Aku pasti akan sangat khawatir jika anak-anak tidak bersama kita saat ini!" Sepertinya Allah telah merancangkan pertemuan kami sekeluarga. 

Apakah Anda pernah mengalami berkat seperti ini? Pernahkah Anda meluangkan waktu untuk mengucapkan syukur atas perhatian dan pemeliharaan-Nya? Renungkan betapa luar biasanya bahwa Dia yang menciptakan alam semesta ini ternyata sangat peduli untuk terlibat dalam kehidupan kita. "Betapa berharganya kasih setia-Mu, ya Allah.

DENGAN MENJADI MILIK ALLAH
KITA AKAN MENIKMATI BERKAT YANG MELIMPAH